diposkan pada : 24-10-2025 16:35:56

Dikisahkan ada seorang wanita kaya yang dikenal pemurah, Ummu Ja'far namanya. Kedermawanan Ummu Ja'far masyhur di kalangan masyarakat, bahkan 2 orang pengemis buta pun mengetahui hal itu.

Setiap hari, 2 pengemis buta itu menunggu Ummu Ja'far di pinggir jalan yang biasa dilaluinya. Ketika 'bekerja', kedua pengemis buta ini punya harapan dan permintaan yang berbeda dengan ucapan doa yang juga berbeda.

"Ya Allah, anugerahkan rezeki kepadaku dari kemurahan-Mu," ucap si pengemis buta pertama.

"Ya Allah, anugerahkanlah rezeki kepadaku dari kemurahan Ummu Ja'far," ucap si pengemis buta kedua.

Demikianlah doa yang diucapkan oleh keduanya, sebagaimana diungkapkan oleh As-Samarqandi dalam kitab Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits (Abu Hafs Umar bin Hasan An-Naisaburi As-Samarqandi, Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits, [Beirut: Darul Kutub al-Alamiyah, 2001] halaman 62).

Mengetahui hal tersebut, Ummu Ja'far segera memberikan sedekahnya kepada kedua orang pengemis tersebut dengan nilai yang berbeda.

Kepada si pengemis pertama yang mengharapkan rezeki dari Allah SWT, Ummu Ja'far memberinya uang 2 dinar. Selanjutnya, untuk si pengemis kedua yang mengharap rezeki dari Ummu Ja'far, diberikan 2 adonan roti dan ayam bakar yang di dalamnya telah diselipkan uang 10 dinar.

Merasa tidak dapat uang, si pengemis kedua ini menawarkan kepada si pengemis pertama agar roti dan ayam bakarnya ditukar atau dibeli dengan uang 2 dinar yang baru didapat dari Ummu Ja'far.

"Berikanlah uang itu kepadaku lalu ambillah roti dan ayam bakar ini untukmu dan anak-anakmu," ujar si pengemis kedua.

Kedua orang pengemis ini tidak tahu bahwa di dalam ayam panggang pemberian Ummu Ja’far itu terselip uang 10 dinar. Singkat cerita, si pengemis pertama pun akhirnya sepakat untuk ditukar. Terjadilah transaksi di antara keduanya, kejadian serupa berlangsung selama 10 hari.

Setelah 10 hari, Ummu Ja'far kembali menemui si pengemis kedua yang mengharapkan rezeki dari wanita kaya itu.

"Apakah kamu puas dengan pemberian kami?" tanya Ummu Ja'far kepada si pengemis kedua.

"Memangnya apa yang engkau berikan padaku?" kata pengemis itu menjawab dengan pertanyaan.

"Adonan roti dan ayam bakar serta uang 100 dinar," jawab Ummu Ja'far.

"Tidak mungkin. Setiap hari engkau hanya memberiku adonan roti dan ayam bakar, lalu aku menjualnya ke temanku dengan harga 2 dinar," jawabnya.

Ummu Ja'far pun merasa terkejut dan menyadari tentang kemurahan Allah SWT kepada hamba yang mengharapkan anugerah dari-Nya.

"Begitulah, dia (si pengemis pertama) mengharapkan kemurahan Allah SWT. Maka Allah SWT segera memberinya kehidupan yang serba berkecukupan, meskipun dia sendiri tidak punya niat atau rencana seperti itu," ujar Ummu Ja'far.

Ummu Ja'far pun menegaskan bahwa barang siapa yang mengadukan kefakirannya kepada Allah SWT, pasti Allah SWT akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Selanjutnya, ia juga meyakini bahwa takaran rezeki setiap orang tidak akan tertukar. Ketika Allah SWT sudah berkehendak pasti akan terjadi dan jika Allah SWT tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi.

Dari kisah tersebut dapat ditarik kesimpulan, mengadukan aneka masalah atau mengharapkan rezeki kepada sesama manusia akan selalu meleset dan tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebaliknya, mengadukan semua keluh kesah hidup kepada Allah SWT, pasti akan mendapatkan solusi dengan cara-Nya yang tidak pernah kita duga sebelumnya. (M A L).