diposkan pada : 19-01-2026 20:24:50

Sahabat Nabi ﷺ yang Kecil Raganya, Besar Ilmunya

Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, tidak semua tokoh lahir dari keluarga terpandang atau lingkungan yang berpengaruh. Sebagian justru muncul dari lapisan paling bawah masyarakat, membawa keteguhan yang lahir dari kesunyian dan kesabaran. Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu di antaranya.

Ia tidak dikenal karena postur atau kedudukannya, tetapi karena kejujuran iman dan kedalaman ilmu yang kelak menerangi generasi setelahnya.

Hidup Sederhana di Tengah Quraisy

Kisah Abdullah bin Mas’ud bermula dari kelahiran beliau di Mekah pada akhir abad ke-6 M, di lingkungan masyarakat Quraisy yang keras dan bertumpu pada status sosial. Ia berasal dari keluarga sederhana dan sejak muda bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Muait, salah satu tokoh Quraisy yang dikenal memusuhi Islam.

Kehidupannya jauh dari pusat kekuasaan dan perniagaan. Ia bukan bangsawan, bukan pula pedagang. Hari-harinya dihabiskan bersama kambing, padang pasir, dan kesunyian. Namun justru dari kehidupan yang tenang itulah terbentuk karakter jujur, mandiri, dan tidak silau oleh dunia.

Tidak ada yang menyangka bahwa penggembala kurus ini kelak akan menjadi salah satu rujukan utama Al-Qur’an bagi umat Islam.

Istiqomah Memilih Islam di Saat Paling Sulit

Titik balik hidup Abdullah bin Mas’ud terjadi pada awal masa kenabian, sekitar tahun 610–613 M. Ia bertemu Nabi Muhammad ﷺ bersama Abu Bakar RA dalam sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna. Nabi ﷺ meminta susu dari kambing yang belum pernah melahirkan. Abdullah menjelaskan bahwa itu mustahil. Namun dengan izin Allah, kambing tersebut mengeluarkan susu.

Peristiwa itu mengguncang keyakinannya. Ia melihat kebenaran bukan dari janji dunia, tetapi dari akhlak dan kejujuran Nabi ﷺ. Abdullah bin Mas’ud pun memeluk Islam di fase paling awal, saat kaum muslim masih sangat sedikit dan tekanan Quraisy berada di puncaknya.

Masuk Islam kala itu berarti siap kehilangan pekerjaan, perlindungan sosial, dan keselamatan diri. Namun Abdullah bin Mas’ud tetap istiqomah. Ia tidak menyembunyikan imannya, bahkan memilih tampil di garis depan dakwah.

Salah satu momen paling bersejarah terjadi ketika ia membaca Surah Ar-Rahman secara terbuka di dekat Maqam Ibrahim. Untuk pertama kalinya, Al-Qur’an dilantunkan dengan lantang di hadapan para pemuka Quraisy. Akibatnya, Abdullah bin Mas’ud dipukuli hingga wajahnya berdarah. Meski demikian, lisannya tidak berhenti membaca ayat-ayat Allah.

Keputusannya bukan karena keberanian fisik, melainkan keyakinan bahwa kebenaran layak disuarakan, apapun resikonya.

Perjuangan Menjaga Ilmu dan Cahaya Umat 

Perjuangan Abdullah bin Mas’ud tidak berhenti pada masa dakwah awal. Ia turut hadir dalam Perang Badar tahun 2 Hijriah (624 M), salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam. Dalam perang ini, ia berperan memastikan tewasnya Abu Jahal, simbol penindasan terhadap kaum muslim.

Namun kontribusinya yang paling besar justru terletak pada ilmu. Abdullah bin Mas’ud dikenal sebagai sahabat yang paling memahami Al-Qur’an. Ia menghafal lebih dari 70 surah langsung dari Nabi ﷺ, mengetahui sebab turunnya ayat, serta memahami konteks dan maknanya secara mendalam.

Rasulullah ﷺ bahkan secara khusus menganjurkan umat untuk belajar Al-Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud. Kedekatannya dengan Nabi ﷺ begitu erat hingga ia dipercaya mengurus kebutuhan pribadi Rasulullah, seperti sandal, siwak, dan air wudhu.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, Abdullah bin Mas’ud diutus ke Kufah sebagai pendidik dan pembimbing umat. Di sana, ia membangun tradisi keilmuan yang kuat, melahirkan generasi ulama yang kelak mempengaruhi perkembangan tafsir dan fiqih Islam.

Meski ilmunya tinggi, ia tetap rendah hati. Setiap menyampaikan hadis Nabi ﷺ, tubuhnya gemetar karena takut keliru. Ia tidak mengejar popularitas dan selalu mengingatkan bahwa ilmu adalah amanah, bukan alat kebanggaan.

Saat sebagian orang menertawakan betisnya yang kecil, Nabi ﷺ bersabda bahwa betis Abdullah bin Mas’ud lebih berat di sisi Allah daripada Gunung Uhud. Sebuah penegasan bahwa nilai manusia tidak diukur dari rupa, tapi dari iman dan kontribusi.

Akhir Hayat Abdullah bin Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud menghabiskan sisa hidupnya sebagai guru, penafsir, dan rujukan umat. Saat usia lanjut, ketika masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, kesehatan beliau menurun. Dalam momen terakhirnya, yang lebih ia pikirkan bukan tubuh yang lemah, tetapi akhlak, iman, dan akhirat bahkan ketika ditanya tentang kebutuhan di ranjang sakit, ia menjawab bahwa yang ia rindukan hanyalah rahmat Allah. 

Beliau wafat di Madinah pada tahun 32 Hijriah (±653 M) dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ yang mulia, tempat peristirahatan banyak sahabat besar Nabi ﷺ. Meski dunia telah ditinggalkan, warisan ilmu dan keteladanan beliau terus hidup dalam hati dan praktik umat hingga sekarang.